Sunday, 2 November 2014

Nothing Lasts Forever.

(sebuah cerita fiksi)
-I must grow up together with the reality, although now i stand alone without you anymore-

Aku mengamati Radit yang sedang meminum kopi hangat sambil duduk memandang ke arah matahari yang sebentar lagi tenggelam. Aku duduk disampingnya, tapi mungkin dia tidak sadar aku sedang memperhatikannya. Orang ini selalu ada disekitarku, menemani hari-hariku, apa yang akan aku lakukan kalau dia tidak ada disampingku lagi? Seketika lamunanku buyar karna suara khas radit yang mengagetkanku.
"Heh kok bengong?"
"Hm gakpapa aku cuma sedang memikirkan sesuatu. Dit, boleh aku bertanya?"
"Tentu saja"
"Menurutmu apa yang gak akan pernah berubah?"
"Kita"
"Hmm menurutmu begitu?"
"Memang menurutmu tidak?"
"Aku gak tau makanya aku nanya haha"
"Menurutku semua berubah tergantung keinginan kita, kalo kita gak pengen sesuatu berubah ya gak akan berubah"
"Jadi tergantung keinginan?"
"Iya. Keinginan untuk mengubah dan diubah"
"Kamu bisa yakinin aku kalo gak akan ada yang berubah diantara kita?"
"Iya kalo kamu ijinin aku untuk tetep jaga semua itu supaya gak ada yang berubah"
~~~
Kamu salah, Dit.
Dan mungkin juga kamu lupa.
Sesuatu akan tetep berubah walaupun kita sendiri gak pengen ubah itu.
Masih ada suatu hal rumit yang membuat semuanya bisa berubah.
Realitas.
Realitas mengubah kamu, aku dan kita berdua.
Sekarang semua berubah kan?
Kamu pergi, tanpa membawaku disampingmu.
Kamu pergi bahkan terlalu cepat sebelum kamu mengajariku bagaimana cara menghadapi realitas.
Sekarang menurutmu, aku harus apa?
Bahkan untuk bertemu dan bertanya padamu saja sekarang menjadi hal mustahil.
Dulu kita selalu menghadapi perubahan bersama, kamu ingat?
Sekarang aku ingin bertanya satu hal.
Apa menurutmu sekarang aku -seorang diri- cukup bisa mengubah diriku sendiri menjadi seseorang yang kuat untuk menghadapi berbagai perubahan yang akan terjadi dihidupku nanti?
~~~
"Hey Dit, apa kabarmu disana? Menurutku, kamu sudah pergi sangat lama. Aku juga gak tau kamu akan pulang atau tidak. Ini aku bawakan bunga dan foto untukmu. Kamu ingat foto ini? Saat kita melakukan percakapan tentang sebuah perubahan saat matahari tenggelam. Sekarang, suasananya sama. Bedanya, sekarang kamu gak ada disampingku. Matahari sudah mulai tenggelam Dit. Dan aku ingin mengucapkan sesuatu. Tapi kali ini, aku membuat sebuah pernyataan bukan pertanyaan untukmu"
"Aku sudah tau apa yang tidak akan berubah"
-sambil mengusap air mataku yang entah sejak kapan keluar
"Aku yakin kali ini tidak akan salah"
-aku tau air mataku keluar lebih deras tapi tetap ku lanjutkan
"People change, but love doesn’t"
"And also the memories of us"
"Kamu bisa mendengarkanku kan Dit?"
"Dan aku harap kamu setuju dengan pernyataanku"
Aku tersenyum menatap papan dengan sebuah nama “Raditya Mahendra”. Aku menghapus air yang keluar dari kedua mataku. Lalu aku melangkahkan kakiku meninggalkan tempat itu.

No comments:

Post a Comment